Refleksi santri di Harlah ke-75 Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun pada 1 Januari 2026. Peringatan Harlah ke-75 Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun menjadi momentum penuh mahabbah dan rasa syukur. Doa bersama yang dipimpin para masyayikh bukan sekadar rangkaian acara seremonial, melainkan wasilah muhasabah atas perjalanan panjang pesantren yang dirintis dengan keikhlasan, kesabaran, dan perjuangan para muassis serta masyayikh pendahulu.

Duduk bersila dalam satu majelis bersama para kiai sepuh, kami para santri kembali disadarkan bahwa pesantren bukan hanya tempat talaqqi ilmu, tetapi juga ruang penanaman adab, akhlak, dan keberkahan sanad keilmuan. Ketawadhuan para guru yang tampak hari itu menjadi cermin nyata dari nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang terus dijaga dari generasi ke generasi.

Dalam sambutannya, perwakilan dzuriyah pondok, Gus Iwan Zunaih, menyampaikan pesan yang sarat makna dan menjadi penguat arah pendidikan pesantren. “Janganlah cetak generasi yang hanya pintar, cetaklah generasi yang pintar dan benar.”

Pesan tersebut selaras dengan cita-cita pendidikan pesantren NU yang menempatkan ilmu harus berjalan seiring dengan kebenaran dan akhlakul karimah. Kecerdasan tanpa adab akan kehilangan barokah, sementara ilmu yang disertai kebenaran akan melahirkan kemanfaatan bagi umat. Nilai inilah yang sejak awal diperjuangkan dan diwariskan oleh para pendahulu Pondok Pesantren Ihyaul Ulum.

Harlah ke-75 ini menjadi pengingat bagi kami para santri untuk terus ngalap barokah perjuangan para muassis. Menjadi santri berarti siap melanjutkan khidmah, menjaga amanah keilmuan, serta istiqamah meniti jalan kebenaran sebagaimana tuntunan para masyayikh.
(Tim Media)