Panggung Drama Teater Perdana di MTs. IU
Hallo sobat inspiratif salam seni dan budaya. Pada tanggal 23 Mei 2024, MTs IU punya acara loh sob alias kelas wolu F ndue gawe. Mari merapat ada panggung teater pertama di aula MTs. IU. Menghadirkan lakon-lakon mahir yang telah dicasting menyesuaikan perannya. Teater-drama ini sebagai bentuk tugas akhir mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas 8F yang diajar oleh Bu Mei Azkiyah, S. Pd.
Dengan mengangkat naskah drama yang berjudul “Langkahi Dulu Tanahku” karya Bu Azkiyah. Naskah teater ini ditulis hanya sehari saja loh sob. Menurut penuturan Bu Azkiyah sumber inspirasi itu ada jika sudah terpaksa. Wah wah wah respect sih naskah drama dibuat hanya sehari. Sudah kayak candi saja ya sob hahahahha.
Disutradarai langsung juga oleh Bu Azkiyah. Para siswa-siswi kelas 8F latihan hanya 2 minggu saja loh sob. Dengan waktu yang terbatas, mereka hanya ingin menampilkan panggung sederhana yang tidak ingin mengurangi keindahan seni sastranya. Oke baik kenalan dulu yuk sobat inspiratif.
Dibalik layar drama ini ada siapa saja sih. Partisipasi dalam drama ini diikuti seluruh siswa-siswi Kelas 8F. Sedangkan untuk pemain/tokohnya ada Dhohi Ammaru Aufa (Atmojo/Kelvin Ainslay), Mohammad Mishbah (Joko), Urfita Althofun Nisa (Irma Istri Joko), Wanda Safira Maulida (Stevy: anak Pak Atmojo), Chalwa Nur Khumairoh (Sinta: anak Pak Joko dan Bu Irma), Ahmad Dafiq Akmal Abror (Satria, orang Madura yang ikut istrinya ke Jawa), Saffanah Hilyah Fuadiyah Noor ( Bu Sarah istri Satria), Kasyful Hifzan Fitrah Ramadhan (Harun, orang Madura yang ikut istrinya ke Jawa), Salsafa Amrina Rosada (Sri: Penjual sayur keliling) ,Salma Nur Aida Awwaliyatuzzahro ( Bu Ana :Bu RT), Saniyatul Hidayah (Risma: tetangga Pak Joko dan Bu Irma), Syahrul Nur Farisman (Rio: Anak kedua Pak Joko dan Bu Irma) , dan Zaskia Sayyidina ( Dina).
“Ini adalah kelas teater drama pertama bagi kami. Saya sangat antusias karena dapat ikut serta dalam drama ini dan sangat bersyukur dapat terpilih menjadi salah satu pemainnya. Walaupun mungkin dalam prosesnya begitu berat seperti membuat berbagai properti dan menghafal, mengimprovisasi dialog serta banyak menyita waktu saya. Namun saya sangat senang karena hasilnya sangat memuaskan. Banyak pengalaman baru bagi saya dalam berakting. Saya merasa bangga karena drama kami dapat disaksikan langsung oleh Bapak / Ibu guru dan diunggah ke YouTube,” tutur ketua drama Saniyatul Hidayah.
Untuk sinopsis drama ini menceritakan tentang seorang bos bernama Atmojo yang kaya raya dari kota. Ia kembali ke kampung halamannya untuk membeli seluruh tanah milik warga di daerahnya demi memenuhi seluruh hasratnya yang ingin menjadikan desanya sebagai tempat wisata dan tempat perbelanjaan seperti di kota-kota besar.
Namun ia menyadari bahwa tanah tempat kelahirannya itu adalah tanah keramat. Tetap saja ia tidak peduli dengan hal-hal mistis dan kejawen. Karena kecintaanya terhadap pekerjaan di kota. Ia semakin terobsesi dengan perubahan total untuk desanya. Ia ingin menyulap desanya menjadi tempat yang padat penduduk, ramai, dan menghasilkan bayak uang. Tidak merasa cukup dengan harta yang dimilikinya. Ia merencanakan untuk berinvestasi hampir separuh hartanya untuk pembangunan mall di Canada.
Bahkan warga sudah banyak memberitahu dia, menasehatinya namun apalah daya Pak Atmojo semakin menjadi rakus dan berlebihan terhadap kehidupan di dunia. Dia bahkan mengabaikan dan menghina cerita rakyat desa tentang bambu runcing Mbah Roro yang sudah mendarah daging di tanah kelahirannya itu. Percaya atau tidak percaya, benar atau tidak. Masyarakat jawa tidak pernah lepas dengan apa itu kejawen.
Drama ini juga memperlihatkan gambaran-gambaran masyarakat Jawa di desa yang suka membantu tetangganya, suka menjenguk tetangganya ketika sakit , suka mengunjungi rumah tetangganya untuk bertukar informasi, bahkan informasi tercepat tidak didapatkan dari HP melainkan informasi tercepat didapatkan dari tukang sayur keliling. Jika kalian perhatikan, banyak sekali maksud serta amanat yang terkandung di dalam drama tersebut. Banyak sekali sindiran-sindiran atau kritik kepada pemerintah.
Tidak hanya itu, drama ini mencapur adukkan 3 bahasa (Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa, dan Bahasa Madura) hal ini karena penulis merasa di kampung halamannya banyak sekali orang Madura. Bahkan banyak orang Jawa yang mahir dalam Bahasa Madura. Penulis juga ingin memperlihatkan bahwa Indonesia itu kaya akan ragam bahasa.
Untuk kelanjutan dalam cerita ini sobat inspiratif bisa langsung lihat dramanya di channel YouTube Mei Azkiyah, atau kepoin instagram @sudutlakon untuk mengakses link drama tersebut. Sobat inspiratif juga jangan lupa follow akun @sudutlakon untuk mengikuti kuis berhadiah setiap bulan dengan batas waktu yang sudah ditentukan. Periode 23 Mei- 23 Juli 2024). Pemenang akan diundi sesuai persyaratan yang sudah tertera di instagram @sudutlakon. Sampai ketemu di drama berikutnya bye bye.
By Redaksi 07
